Apakah Boleh Orang Lain Buat Kerja, kita Yang Ambil Gaji?

Orang Lain Yang Buat Kerja, Apakah Patut Kita Pula Yang Meminta Upah?)
Bilamana orang lain yang mendirikan rumah, diatas tapak tanah sendiri, menggunakan wang ringgit sendiri dan dengan kehendak reka ciptaan mereka sendiri, bolehkah kita mengaku yang rumah tersebut, rumah kita?. Orang lain yang penat lelah membena rumah, apakah patut kita mengaku milik kita?. Cuba jawab pertanyaan saya!.

Bilamana orang lain yang membuat kerja, apa kah boleh kita yang minta upahnya?. Sekiranya benar tuan-tuan ingin belajar dan ingin beroleh faham akanilmu makrifat, sila jawab pertanyaan saya!.

Setelah tuan-tuan menjawab pertanyaan itu, mari sama-sama kita lihat kepada perkara sembahyang atau puasa. Selalunya kita mengaku yang kita bediri untuk mengerjakan sembahyang dan sebelum kita mengaku yang kita mengerjakan puasa. Kita yang berzikir, kita yang bersedekah, kita yang beribadah, kita yang taat, kita yang alim, kita yang patuh dan galanya. Mengaku yang iabadah itu datangnya dari usaha diri kita sendiri, ikhtiar  sendiri, usaha  sendiri, kepatuhan dan ketaatan itu datangnya dari diri kita sendiri, Cuba jawab pertanyaan saya?.

Darimana datangnya sifat mata dan jika mata datangnya dari milik Allah, sudah tentu sifat  penglihatan juga adalah datangnya dari Allah. Dari mana datangnya sifat kaki?, jika tidak dari Allah!. Jika sifat kaki datangnya dari Allah, sudah tentu sifat berdiri juga, adalah datangnya dari Allah. Dari mana datangnya tangan?, jika tidak dari Allah!. Jika sifat tangan datangnya dari Allah, sudah tentu bertakbirpun dari Allah. Dari mana datangnya mulut?, jika tidak dari Allah!. Jika sifat mulut datangnya dari Allah, sudah tentu segala lafaz bibirpun dari Allah. Dari mana datangnya akal, usaha, ikhtiar, kehendak dan dari mana datangnya  niat?, jika tidak dari Allah!. Bilamana segalanya datang dari Allah, mana yang dikatakan datang dari diri kita sendiri?. Cuba jawab pertanyaan saya, yang mana satukah datangnya dari diri kita?.

Bilamana tidak ada satu perkarapun (walau sebesar zarah) yang datangnya dari diri kita sendiri, kenapa masih nak mengaku kita beribadat, kenapa masih nak mengaku kita yang taat, kita yang patuh, kita yang rajin, kita yang berusaha, kita yang berikhtiar dan kenapa masih nak mengaku kita yang bersolat, berpuasa, berzikir, bersedekah dan kita yang bersyahadah?.  Cuba jawab pertanyaan saya.

Tidakkah tuan-tuan merasa malu kepada diri sendiri, untuk megambil atau untuk mengaku hak orang sebagai hak kita?. Orang lain yang membena rumah, tiba-tiba saja tuan sanggup untuk mengaku yang membuat kita. Tidak patut, tidak layak dan tidak sajak untuk kita mengaku hak orang. Marilah kita akur, mari kita perakui dan marilah kita terima hakikat, bahawasanya hak milik orang itu, tetap selamanya menjadi hak orang!. Marilah kita sama-sama terima, mengaku dan redha dengan sebenar-benar pengakuan (pengakuan yang datangnya dari hati suci bersih) bahawasanya segala kuasa, segala gerak, segala kehendak dan kemahuan kita itu, adalah hak orang.

Milik oranglah kedua-dua belah kaki yang kita gunakan untuk berdiri sembahyang. Milik oranglah kedua belah tangan, yang kita gunakan untuk mengangkat takbir. Milik oranglah kedua bibir mulut, yang kita guna untuk melafaz kalam Allah. Ingat, ingat dan ingatlah bahawa bermulanya diri tubuh badan kita inii, adalah milik orang. Setelah bermula dengan milik orang, hak orang dan kepunyaan orang, kenapa kita masih sanggup mengaku milik kita!. Hak oranglah sebelum, sesudah dan selamanya!.

Begitulah dalam perbuatan beribadah kita, seumpama pebuatan ibadah sembahyang, puasa, zakat, haji, syahadah, sedekah, zikir, membaca Quraan dan sebagainya. Bkan kita yang melakukan dan bukan kita yang megerjakannya. Kita sudah tidak ada dan kita sudah mati. Masakan orang mati boleh berdiri, membaca Quraan, puasa, sembahyang dan sebagainya?.

“Oleh itu, jangan hendaknya mengaku adanya diri”

Advertisements

8 Replies to “Apakah Boleh Orang Lain Buat Kerja, kita Yang Ambil Gaji?”

  1. ya wahai guru. tiada kata dapat diungkap,tiada apa yang hendak di cari, atas allah segalanya. tiada diri , matinya diri, tiada hebat hendak dicari, tiada kuat hendak dicari, nyata segalanya allah atas diri ini yang tiada. hak allah
    tetap hak allah. pandangan allah semata-mata. allah untuk allah

    Like

  2. Assalamualaikum Tuan Guru yg dihormati. Contoh diatas merupakan semua amalan yg baik2. Bagaimana dengan amalan2 yg sebaliknya cthnya membunuh, mkn riba, kianat anak yatim, berzina, mkn rasuah dll. Sudah pasti bukan kita yang melakukan dan bukan kita yang mengerjakannya. Kita sudah tidak ada dan kita sudah mati. Allah lah jua segalanya. Saya rasa istilah seperti dosa tidak boleh diguna pakai lg disini. Mohon pencerahan dr murid yg daif.

    Like

    1. benar. setelah sy teliti tulisan tuan, sy yakin tuan sudah sampai kpd makrifat. seumpama Baik drp Allah, apakah buruk dari Allah yg lain!. sememangnya dari Allah yang sama buruk baik itu. Sesudah kita tiada, yg ada hanya Allah, suka2 dialah…………………………..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s