pendapat yg baik

ebit
kuntunggal123@gmail.com
112.215.66.72
Submitted on 2013/09/12 at 9:53 am

benarlah yg tuan hj guru kata. Allah berfirman dlm kitabNya bhw Dialah yg menciptakan kita dan perkara perkara yg kita buat. Allah menciptakan angin bgtu pula perbuatan angin. kemana saja angin tu bertiup Allah dh cipta atas kehendakNya. begitupun smua ciptaanNya,, Allah dah cipta perbuataannya. tdkkah kita baca dlm Alquran kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Nabi Khidir membunuh. bknkah membunuh itu perkara yg dosa. dan nabi khidir membangun dinding rumah anak yatim bknkh itu perkara pahala. tp apa jwb nabi khidir smua yg diperbuat bkn atas kehendak nabi khidir. Org yg brmakrifat itu berbuat atas IlmuNya. Org yg sdh makrifat itu tdk lg membawa amalnya krn dia sdh tau siapa yg beramal. Org yg bermakrifat itu bkn lg surga dan neraka yg dituju. tp Allah yg jd tujuannya.

kepada tuan muallim munawar. kita tidak tau pasti apakh kita masuk surga atw neraka. mengapa kita berharap dan menuju yg blm pasti. tp kita tau pasti bhw kita akan kmbali kpada Allah. pahamilah firman Allah ini…
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI’UN
Approve | Reply | Quick Edit | Edit | History | Spam | Trash

Advertisements

16 Replies to “pendapat yg baik”

  1. Usah kata bab dosa, pahala,surga,neraka,tiupan angin,rezeki, ibadah dll. Malah di dalam al-quran Allah jelaskan, “Tidak gugur sehelai DAUN pun, melainkan semuanya dalam pengetahuan Allah SWT belaka dan telah nyata tertulis didlm kitab Loh Mahfuz”. Itu DAUN benda yg paling remeh, apalagi kalau persoalan yang lebih besar yang berkaitan dengan makluk manusia serta kaitannya……tentulah lebih nyata dalam pengetahuan .serta tadbiranNYA. Mahasuci Allah……………….maka dialah segala-galanya

    Like

    1. DIA berfirman dgn.nama allah/.tapi zat allah tulah yg.dicari olih org2 makrifat,/maana sabelum nama allah tu ujud mesti ada pencipta nya kena lah cari nama (1)….waulahualam

      Like

  2. Benar, segalanya telah tertulis sejak azali, tapi takdir adalah bukannya ‘satu hala’ spt yg kita sangka. Atas Ke- ‘Maha Bijaksana’-an Allah SWT, suatu takdir yang berupa ‘smart system’ telah dicipta-Nya, iaitu sistem yang teratur, menurut sebab-akibat

    Anda bukan ditakdir untuk menjadi bodoh, sebaliknya anda ditakdir untuk menjadi cerdik dan bodoh kedua-duanya. Jadi atas dunia ini, jalan manakah yang anda pilih? jalan utk jadi cerdik atau bodoh? jika anda pilih jalan utk jadi cerdik, dengan usaha dan doa yg berterusan, insya-Allah, anda akan dikurniakan jadi orang yang cerdik, begitulah sebaliknya
    Bukankah jelas firman-Nya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka” -Ar-Ra’d:11-

    Inilah yang dinamakan takdir mua’llaq yang boleh berubah–ini takdir ‘smart system’ yang diurus oleh para malaikat. manakala takdir mubram adalah tidak sesekali berubah, inilah takdir yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

    Janganlah kita terperosok jadi puak Jabariah pulak. ibarat lalang ditiup angin–manusia tiada daya upaya, hanya berserah pada takdir. dan jangan pulak jadi puak Qadiriah–nasib kita adalah bergantung 100% usaha sendiri–tanpa campurtangan Tuhan.

    Jadilah Ahlus Sunnah Waljamaah—antara kedua-duanya

    Wallahua’lam

    Like

    1. Jawapan kepada blog (ibn Abdullah)Jika kita ada pilihan, kenapa tuan tidak pilih jadi menteri?. Kenapa tuan tidak pilih jadi Raja?. Kenapa tuan tidak pilih jadi Pensyarah?.
      Sebelum tuan buat pilihan, sebenarnya Allah sudah terlebih dahulu memilihnya untuk tuan. Akal ikhtiat, usaha dan fikiran tuan, sebenarnya hanya memikirkan untuk berikhtiar benda yang sudah ditetapkan Allah (kita tidak ada pilihan, selain yg telah dipilih Allah sebelumnya)!…………………. drp hj shaari

      Like

  3. Di setiap nafasku, fikirku, gerakku ,mataku dan segalanya ku melihat tiada ada terobosnya ruang untuk bernama makhluk menumpang hinggap walau untuk lebih kecil dari sezarah. Maha suciNya dari diumpakan dari apa jua, jikalau iaNya bewarna biru maka tiada yang lain melainkan birulah nafasku,fikirku,gerakku,mataku dan segalanya.Tiada lain ku melihat melainkan biru sahaja yang terlihat.

    “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir dan Yang Zahir serta Yang Batin dan Dialah Yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu” – Al-Hadid ayat 3.

    Mohon diperbetulkan jikalau ada silap dari Tuan guru dan sahabat sekalian.

    Like

  4. Tiada makna hukum jika bertemu tanpa huruf dan tanpa suara …sememangnya binasa segala langit dan bumi dan isinya…tiada lg yg tinggal melainkan DIRINYA SENDIRI.

    Like

  5. as salam..
    batinku Allah zahirku Allah
    sekelian ku (sekeliling ku) Allah
    gerak diamku Allah..
    lahaw lawalakuwata illah billah…

    p/ s perbuatlah apa saja kemahuanMu..
    cuma berilah aku kefahaman moga aku kembali dlm redha Mu…
    moga kau telah tulis untukku di sana..
    “kembalilah jiwa2 yg tenang dlm keadaan redha meredhai..”

    syukran lilahi taala….

    Like

  6. Salam Tuan Guru Haji Shaari dan rakan2 seperjalanan, saya postkan untuk tatapan bacaan…
    PERSEJARAHAN PERTELINGKAHAN PERMUSYAWARAHAN PARA WALI SONGO

    Penwartaan sebagai pelajaran luhur di Giri Gajah tempatnya untuk bermusyawarah oleh para Wali sembilan. Argapura keraton Sang Ratu Agama (Sunan Giri).

    Seluruh Wali diminta hadir, oleh Prabu Satmata (Sunan Giri), Suhunan Benang diminta hadir pula, lantas Suhunan Kalijaga, lantas Suhunan Ngampeldhenta (Sunan Ampel), Suhunan Kudus juga diminta hadir, juga Syeh Siti Jenar. Dan tidak di berikan nama salah seorang dari mereka itu kerana menjaga amanat kerahsiaan. Dia juga hadir bersama dikala waktu itu.

    Syeh Bentong ikut diminta hadir, juga Pangeran Palembang, Panembahan Madura juga, semua menghadap ke Giri Liman (keraton Sunan Giri), berkata Prabu Satmata (Sunan Giri), Syukurlah semua lengkap hadir, semua berkenan datang ke Giri Gajah.

    Diharapkan semua bersatu pendapat, jangan sampai berdebat sendiri, satukan kehendak, saat mewedarkan mutiara ilmu, membuka rahasia, jangan terlalu banyak memakai bahasa kias, jabarkan saja apa adanya, (kala) tengah berkumpul dengan para Wali semua, (Sunan Giri mengingatkan) Saat nanti telah berkumpul, jangan saling berebut kebenaran sendiri-sendiri.

    Kangjeng Suhunan Benang berkata, mulai mewedarkan kelebihannya. Sesungguhnya badanku ini, adalah Zat Sifat Af’al Allah, sangat nyata didalam kesadaran hamba, Zatullah yang menguasai, dan berwenang dalam badanku.

    Kangjeng Adiluwih (Sunan Kalijaga) berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Kesadaranlah yang patut menjadi namaku, patut menjadi nama Yang Maha Kuasa, yaitu Allah (Hyang) Suksma Yang Luhur, (patut menjadi) nama dari Sang Hidup dan nama seluruh semesta.

    Kangjeng Suhunan Giri (Westhi) berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Sesungguhnya badanku ini, terdiri dari Iman (keyakinan-maksudnya adalah jasad halus) Urip (Hidup-maksudnya adalah Roh) dan Nugraha (anugerah-maksudnya adalah jasad kasar), Sang Hidup tak lain adalah Allah itu sendiri, begitulah pemahamanku.

    Kangjeng Suhunan Kudus berkata, mulai mewedarkan kelebihannya, Roh adalah pangkal keyakinanku, (Roh bagaikan) sebuah Cahaya yang memancar layaknya sinar surya, mengeluarkan perbawa yang luar biasa, menyelimuti jalannya semesta raya, menghidupi seluruh jagad.

    Panembahan Madura berkata, mewedarkan kelebihannya, Yang dinamakan Anugerah Sejati, adalah Kunhi Allah, maksudnya Kunhi, tak lain adalah Nabi Allah, menyatu dalam kesejatian dalam nama Allah.

    Pangeran Palembang berkata, mewedarkan kelebihannya, Sesungguhnya badanku ini, tak lain adalah Allah, Allah Yang Maha Berkuasa, Maha Hidup dan Maha Luhur, Berwenang menguasai semesta raya.

    Prabu Satmata (Sunan Giri) lantas berkata, mewedarkan kelebihannya, Tiada beza dengan Allah Kuasanya, yang mengetahui pertama tiada lain kecuali Allah, yang kedua Nur dan Badan Jasad, yang ketiga Rasul, dan yang keempat Zatullah.

    Syeikh Siti Jenar lantas berkata, mewedarkan kelebihannya, (Dalam) menyembah Allah, yang sujud maupun yang rukuk adalah Allah, yang menyembah maupun yang disembah adalah Allah, AKU lah yang Berkuasa, Yang Berwenang tak lain juga AKU.

    Maka berkatalah seluruh Wali, Syeikh Siti Jenar berfaham Qadariyyah, semuanya adalah tunggal menurutnya, Siti Jenar menjawab, Dikatakan berpisah pun tiada tepat, dikatakan dekat pun juga tidak benar, itulah Allah.

    Prabu Satmata (Sunan Giri) lantas berkata, Yang kamu tunjuk sebagai Allah itu jasadmu, Syeh Lemah Bang menjawab, tiada membicarakan Raga dan Jiwa (Badan halus), semua tempat Roh telah ditinggalkan, semua tak lain hanya Allah, sekehendak-Nya Berwenang.

    Maka seluruh Wali berkata, Dirimu salah wahai Siti Jenar, mengatakan badan jasadmu Allah, dan Allah berwujud dalam badan Siti Jenar, badan jasadmu tak kekal didunia ini, Siti Jenar jelas telah tersilap penyimpangan salah, dia telah mengaku (Hyang) Suksma (Tuhan).

    Dan tersebutlah pada pertemuan selanjutnya, semua mewedarkan mutiara ilmu, tiada memakai tirai rahasia lagi, semua membuka penutup ilmu, agar tiada salah dalam memahami, disini agar jelas mana yang pemahamannya sesat, akan tetapi pendapat Siti Jenar tetap tiada goyah.

    Maka Prabu Satmata berkata, (Akan tetapi pendapat) Syeikh Lemah Bang terlalu berani, daripada seluruh saudara-saudara semuanya disini, padahal maksudnya tiadalah berbeda, tapi terlalu jelas apa yang diucapkannya, boleh membuat “salah faham” sehingga membuat orang menjadi pefitnah agama.

    Akan banyak manusia yang menjadi bingung, jika tidak mendapatan pemahaman itu dari seorang guru, akan banyak manusia yang menggampangkan, merasa telah mendapatkan kabar rahasia, merasa telah mendapatkan hal yang sejati, tiada berkehendak untuk mencari guru lagi, seolah enggan lagi untuk bertanya kepada seorang guru.

    Syeikh Maulana (Maghribi) pun hadir, seluruh orang besar keturunan dari Champa (juga datang), datang ke masjid agung, ditambah dengan tujuh wali lainnya, semua kembali mewedarkan mutiara ilmu, tiada beda dengan pertemuan yang terdahulu, Siti Jênar kembali diperingatkan.

    Syeikh Maulana (Maghribi) lantas berkata, Benarkah nama Tuan Siti Jenar? Siti Jenar lantas menjawab, Allah namaku, tiada lagi Allah lain, yang mewujud dalam Siti Jenar, sirna Siti Jenar hanya Allah yang nyata.

    Maulana Maghribi berkata, Siti Jenar telah kafir, seluruh keturunan orang besar Champa berkata demikian, Siti Jenar telah kafir dalam pandangan manusia, tetapi entah didepan Allah, nyata telah kafir dalam pandangan manusia, dan orang seperti inilah patut disebut “kafir”.

    Maulana Maghribi berkata, Wahai para Wali percuma kalian mengajar jika demikian, seluruh masjid kalian akan kosong, sedikit yang akan sembahyang disana, agama akan rusak, semua orang akan menggampangkan, sepatutnya yang salah harus dihukum dengan pedang.

    Syeikh Siti Jenar lantas menjawab; “Sudah menjadi niatan saya, pintu surga telah terbuka lebar”. Siti Jenar lantas diikat, oleh empat orang pengawal suruhan. Syeikh Siti Jenar telah diputuskan untuk mendapat hukuman, dengan cara dipotong pancung kepalanya.

    Tiga orang muridnya, berkehendak membela guru mereka, meminta dihukum dengan cara yang sama, ketiganya lantas, mengucapkan Subhanallah, tersebutlah ada seorang anak gembala (juga murid Siti Jenar), melihat kejadian itu.

    Siti Jenar mendapat hukuman mati, karena berani mengaku Allah, anak gembala itu segera, berlari ke arah para Wali dengan sesumbar, mendekat tepat dihadapan, (Para Wali berkata) Masih ada Allah yang tertinggal, Allah yang menggembalakan kambing.

    Prabu Satmata lantas memerintahkan, Bunuh juga anak gembala itu jangan dilamakan lagi, tempatkan disebelah Siti Jenar, menjawab Siti Jenar; “Tempatkan disisiku, akan aku bawa serta dia”.

    Anak gembala berkata; “Jangan Tuan yang meninggal (cukup hamba saja), menangis sedihlah dia (melihat gurunya hendak dibunuh). Siti Jenar berkata; “Ikutlah mati bersamaku, sudah terbuka pintu surga”. Maka semua yang hendak dihukum, lehernya telah dipedang, tersenyum anak gembala.

    Kangjeng Suhunan Ratu Giri, tiada menyangka bahwasanya, jasad Siti Jenar masih utuh, selama tiga hari terlihat bercahaya, lantas terdengar ucapan salam, Selamat tinggal wahai Paduka, (Jasad) Siti Jenar lantas hilang.

    Begitu juga ketiga muridnya semua jasadnya menghilang tak ketinggalan jasad anak gembala juga ikut sirna. Keheranan semua yang melihat kepada Syeikh Siti Jenar termasuk muridnya yang masih ada tertinggal.

    Apakah cerita ini ada asas kebenarannya atau kisah sejarah silam yang hilang ditelan zaman dan juga tidak ramai orang tahu. Dan kuburan siapa pula di Ngabeyan Kartasura Hadiningrat Kota Kabupaten Sukoharjo Solo Jaten yang berkoordinat 7°33’0″S 110°44’29″E itu.?

    Wassalammualaik.

    Like

    1. Salam Tuan Guru Haji Shaari dan rakan2, mereka semua tahu . Yang ADA AHAD, AHAD, AHAD. tafsiran masing2 wali berbeza beza tetapi TIDAK LAIN itu juga maksudnya cuma SYEK SITI JENAR yang berani……itu sahaja. Maka tafsirkan sendiri……..kalau semua tahu RAHSIA IBU MINYAK WANGI, dunia tiada seri lagi ……..agaknya…

      Like

  7. kerana ramai yg masih bersyariat, bertarikat, berhakikat,bermakrifat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    matikan makrifat jadi siapa yang tinggal…???????????????????
    putuskan makrifat siapa yang tinggal…..????????????????
    kosongkan segalanya siapa yg tinggal…..??????

    ramai yg masih suka berseloka,bermadah lagi beriadah…..!!!
    seperti main tarik tali……….kejap ke sana kejap ke sini
    biarkan kerana tiada lain dah tuh…..

    ibu minyak wangi akan menjadi tengik utk 4 golongan ini.
    ibu minyak wangi akan menjadi wangi kpd yang telah KOSONG!!!!!!!

    hanya yang kosong akan di isi dengan SATU dan akan mewangilah si ibu minyak wangi tersebut!!!

    terima kasih tuan guru atas tunjuk ajar, saya faham tuan guru tidak bisa mewartakan ianya disini akan menimbulkan banyak fatanoh!!!

    Like

    1. Terima kasih atas kenyataan ananda itu, bilamana kita sudah mengenal Allah, makam syariaat, torikat, hakikat dan makrifat itu, tidak lagi terpakai. Itu hanyalah sekadar istilah pd peringkat sekolah tadika semata-mata!. Bilamana sudah kpd tahap mengenal Allah, Sudah tidak lagi pakai syariaat, torikat, hakikat dan tidak lagi memakai makrifat. Melainkan kita memakai AHAD…………………………DRP HJ SHAARI

      Like

  8. Kisah Nabi Khidir membunuh remaja dalam Surah Al-Kahfi itu merujuk kepada ilmu mati sebelum mati. Ia adalah kiasan kepada seseorang bapa itu hendaklah mengajar anaknya supaya mematikan diri sebelum mati kepastian. Inilah ilmu yang jarang diajar oleh bapa-bapa zaman sekarang. Yang mereka ajar anak mereka adalah hidup selama-lamanya. Kejar dunia, utamakan sijil sehingga sijil UPSR yang sebenarnya tak ada nilai pun, ibu bapa sanggup habiskan wang hantar anak ke pusat tusyen. Namun jarang ibu bapa utamakan ilmu Al-Quran. ILMU MAKRIFAT jauh panggang dari apilah

    Like

  9. ma.ap sodara munawir saya orang.bodoh.yang ingin bertanya apa artinya .sesesungguhnya manusia itu mati .terkecuali yang berilmu. yang ber.imu pula tertidur kecuwali yang mengamalkan .yang mngamalkantertipu kecuwali yang ihlas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s